Sikap Akupunktur Terapist


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Empathy not Simpathy . !!

Yupp, kata” itu tergambar jelas dan terpatri rapi di ingatan. Itu isi dari salah satu slide saat berada dalam kelas Asuhan Akupunktur dengan materi Keterampilan Akupunktur Terapis yang diisi oleh dr. Michael Wicaksono. Truss apa hubungannya dong ?? . hubungannya banyak banget dan terhubung sangat kuat akan diri ini mpe kecepatan 1.9 gb/s dan mengalahkan kecepatan modem yang sangat cepat sekalipun (Apaaasiiiihh iniii -____-“) hahaha mulai kumat alay’a .😀 . well, ini hari ke 13 saya di Surabaya guna menunaikan kewajiban sebagai Calon Akupunktur Terapis yang profesional (amiien) yang tengah bertugas di RSAL Dr. Ramelan Surabaya sebagai seorang praktikan.

Ini pengalaman kedua praktek langsung ke pasien sungguhan setelah praktek di kliniknya dosen saya dr. Singgih Nugroho di Nguter-Sukoharjo. Perbedaan yang sangat signifikan memang terlihat dari kedua lokasi praktek ini. Perbedaan yang sangat menonjol dapat terlihat dari jumlah kunjungan pasien per harinya. Di Rumkital Dr. Ramelan Surabaya ini dikunjungi oleh pasien kurang lebih 50-70 pasien per harinya dan bukan suatu angka yang kecil untuk kunjungan pasien akupunktur jika dibandingkan rumah sakit lainnya. Karena butuh energi yang prima dan konsentrasi tinggi untuk menerapi pasien sebanyak itu dan tidak lupa butuh kesabaran extra dalam menghadapi tingkah laku pasien yang beragam. Dari pasien yang kebanyakan ngeluh, kebanyakan perintah, bawel, rewel, sedih, dan luapan” emosi serta rintihan orang sakit lainnya.

Sungguh suatu anugrah yang luar biasa saya diberi kesempatan untuk hadir berada ditengah-tengah  mereka sebagai perantara Allah atas kesembuhannya.  Sebagai seorang terapis saya wajib menanyakan keluhan pasien dan beberapa pertanyaan untuk mengisi blanko pengkajian dan secara langsung saya  mendengarkan berbagai keluhan pasien dari A-Z. Dan tidak bisa dipungkiri bebrapa pasien ada yang sampe nangis menceritakan tentang penyakit dan kehidupannya (pikiran).

Awalnya  saya sempat ikutan sedih dan ikut terjun bebas kedalam masalah yang tengah dihadapin pasien saat itu ( . SAAT ITU . ) dan tentu belum ada jiwa profesional dalam diri saya dalam menyikapi hal-hal yang demikian. Teringat dengan materi Askup yang diberikan oleh dosen saya tentang prilaku seorang terapis dalam menghadapi pasien. Beliau menjelaskan tentang prinsip dasar yaitu:

  1. Safe
  2. Primum non nocere
  3. Your patient’s life is very important But your life is more important . !
  4. Empathy not Simpathy
  5. Trust

Yah, memang ini prinsip dasar yang harus dipegang teguh untuk menjadi seorang terapis yang profesional. Memang tidak mudah bagi saya untuk poin yang ke-4 karena sifat pengiba yang diwariskan Ayah dan Umi. Karena bagaimanapun juga pasti ikut terbawa suasana curhatan pasien. Tapi, InsyaAllah bisa karena semuanya butuh proses untuk membuatnya menjadi lebih indah .🙂 .  Dan berikut ada beberapa hal lagi yang perlu untuk diperhatikan dalam menangani pasien dan harus tertanam kuat didalam diri seorang Terapis Akupunktur maupun tenaga kesehatan lainnya

  • Menyadari bahwa sesungguhnya Pasien adalah manusia, individu yang punya hak dan kewajiban
  • Perlakukan pasien Anda dengan ramah, sopan, sabar, sesuai hak dan kewajibannya
  • Anda berhak mendapatkan penghormatan dan penghargaan dari pasien; Pasien berhak mendapatkan penghormatan dan penghargaan Anda
  • Perlakukan pasien setara dengan Anda; tidak lebih rendah ataupun lebih tinggi
  • Privacy pasien harus diutamakan

InsyaAllah ini bisa .🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s