Catatan Seorang Terapis Akupunktur


Sejauh ku jelajahi dunia..
Menatap, mendengar dan merasakan getirnya kehidupan.
Tak kan terlepas aku dari sebuah masa lalu yang sangat berpengaruh pada apa yg ku rasakan saat ini.
Cerita ku saat ini adalah cerminan cerita yang telah mereka goreskan saat dulu.
Baik buruknya aku saat ini tergantung pada baik buruknya mereka dimasa lalu.
Darah yang mengalir dalam nadi ini mencerminkan 2 kepribadian yang menjadi satu dalam jiwa dan ragaku. Keberanian, kasih sayang, dan perhatian yang mereka tunjukan terekam jelas pada setiap inci tubuh ini.
Kemanapun dan dimanapun ku melangkah cerita mereka selalu ikut, seakan menjadi sandaran disaat lelah dan sebagai penyemangat disaat jenuh.
Mereka adalah Ayah dan Umi..

image

Ya Rabbi,, ternyata dunia ini sempit banget yah. Tau gak sih udah kurang lebih 1,5 tahun  saya buka praktek dan bisadibilang 88% pasien itu orang-orang yang memang dulunya udah punya cerita (kenal) sama Ayah Umi. Kalo bukan temennya Umi yg udah lama gak ketemu yah temen Ayah yg udah lama gak ketemu. Ini satu kisah dari sekian kisah

yg terkadang buat saya terpelongok gak jelas. Jadi satu ketika saat saya lagi sibuk baca artikel di salah satu website,  handphone diatas meja berdering. Sembari mengecilkan suara mp3 saya jawab telponnya
S: “Iya, Assalammualaikum..  dengan siapa”
P:  “Walaikumsalam, apa benar dengan ibu Dona Akupunktur? ”
S: ” Iya dengan saya” (untuk kesekian kalinya dipanggil ibu lagi-_-)
P: ” bla bla bla bla bla ,…”
Si penelpon mulai memperkenalkan diri dan konsultasi tentang keluhan yg ia rasakan. Dan akhir dari obrolan ditelpon adalah pasien datang langsung ke tempat praktek biar bisa diperiksa dan dikasih tindakan langsung. Beberapa jam setelah telpon mati, datanglah 2 orang yg tadi menelpon ibu Dona dan lagilagi mereka kaget karena ibu Dona yg mereka bayangkan ternyata masih seorang gadis belia yg masih unyu unyu dan sebaya dengan anak kandung mereka. Entah apa yg ada dalam pikiran mereka saat itu, saya hanya menebar senyum dengan menyapa ramah seperti biasa menyapa para tamu. Selanjutnya yah kembali pada point utama kenapa mereka datang ke tempat praktek. Yang pasti mereka ingin mendapatkan tindakan terapi Akupunktur seperti yg telah saya jelaskan sedikit pada telpon yang lalu.
Oke prosedur terapi mulai dilakukan dari anamnesa awal, diagnosa, tindakan dan evaluasi tindakan. Dalam setiap tindakan supaya dapat untuk mencairkan suasana dan membuat pasien relax saat ditusuk dengan jarum, biasanya saya melakukan pendekatan emosional dengan menanyakan hal hal yg mungkin hisa membuat pasien merasa lebih nyaman dan lebih diperhatikan. Karena saya sangat berharap hubungan saya kepada pasien bukan hanya sebatas seorang terapis dan pasien, mungkin bisa berubah menjadi menantu dan mertua #eh (maaf bercanda please jangan baper) 😁😂.

image

Sebelum melakukan tindakan, supaya dapat berakhir seperti apa yg kita harapkan (kurangnya keluhan) kunci utamanya adalah dengan sama-sama membangun rasa percaya pasien terhadap diri kita sebagai seorang terapis🙂.
Dan begitulah yg sangat biasa saya lakukan di dalam ruangan praktek bersama pasien-pasien saya. Saya selalu berusaha membuat pasien merasa nyaman dengan menghadirkan senyum diwajah mereka dan terkadang pasien yang selalu mengahadirkan senyum untuk saya.
Terapi pertama usai, lanjut pada kontrol pertama, kedua dan ketiga. Dan berawal dari tatap pasien dengan Umi yang tengah duduk di ruang tunggu. Ternyata si pasien adalah anaknya cucu nenek yang dulu merupakan tetangga dari kakek buyutnya sepupu yang merupakan temen Ayah dan Umi (ribet yah hubungan pertemanan mereka, terkadang memang seperti itu hubungan persaudaraan emak emak jaman dulu kala).
Itu baru satu kisah, ada lagi yg ternyata itu pasien masih saudara saya. Waah bahaya nih saudara ketemu gede >.<  Memang terkadang butuh pohon keluarga yg menjelaskan silsilah keluarga siapa anak siapa biar ntar gak bakal terjadi perkawinan sedarah kan bahaya yah perkawinan sedarah (lah kok malahan -_- hahah mohon abaikan).

image

Sering banget loh ngedenger kata-kata “ya ampuuuun, jdi kamu ini anaknya pak Asril?”, “Dona anaknya Uni Niar?”, “Astaga, kan itu ayahnya Dona tetangga saya dulu”, “Ya ampuun berarti kita saudara dong?”
Yaah begitulah. Banyak kali penemuan-penemuan baru yg saya dapatkan dari kisah menjadi seorang terapis di sini. Kaget yang tak terduga duga pasti ada dan akan selalu hadir didepannya.

image

Saya sangat menghargai pasien-pasien saya, saya belajar banyak dari mereka tentang ilmu dunia ini dari cerita-cerita indah yang mereka utarakan. Dan yang paling penting terima kasih Ayah Umi yg sudah menjadi orang baik saat dulu hingga sekarang. Karena kebaikan yang kalian tanamkan sejak dulu, sekarang Dona bisa merasakan selalu didekatkan dengan orang-orang yang baik.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s